Blogger templates

Pages

Kamis, 08 November 2012

Home » »


CARIYA PITAKA PALI
A.  Cariya Pitaka Pali
Risalah ini berisikan 35 kisah tentang kehidupan-kehidupan Sang Buddha yang diceritakan kembali oleh permohonan bhikkhu Sariputta. Bila Jataka menceritakan berbagai kehidupan Buddha sebelumnya sejak jaman petapa Sumeda sampai beliau mejadi Buddha Gotama. Cariya Pitaka hanya menjelaskan 35 kehidupan Boddhisattva disiklus dunia terakhir ini. Bhikkhu Sariputta mengajukan permohonan itu dengan tujuan untuk memperoleh petunjuk tentang tekat yang luar biasa besar, upaya yang keras, penggorbanan yang tiada bandingnya yang telah dilakukan oleh boddhisattava dalam memenuhi parami (keluhuran kearah kesemapurnaan).

Setelah waktu yang sangat lama, boddhisattvapun mengenapi 10 parami berkali-kali sampai tidak terhitung banyaknya. Cariya Pitaka mencatat perbuatan-perbuatan seperti itu di dalam 35 kehidupan, dengan memiliki tujuan dari sepuluh parami dan menjelaskan setiap parami dicapai didalam setiap kehidupan iitu. Sepuluh cerita itu dalam vagga pertama menjelaskan pengumpulan kebajikan didalam kedarmawanan dana, vagga kedua memiliki cerita tentang praktek moralitas, sedangkan vagga ketiga menyebutkan lima belas cerita, lima darinya berhubungan meninggalkan keduniawiaan, 1 dengan tekad, 6 dengan kejujuran, 2 dengan cinta kasih dan dengan kesimbangan batin.
Dalam kitab Cariya Pitaka dibahas tentang tujuh paramita dari sepuluh paramita. Paramita-paramita itu adalah dana, sila, nekkhamma, aditthana, sacca, metta, dan upekkha paramita.
Paramita-paramita inilah sebagai modal boddhisattva untuk mencapai tingkat kebuddhan, yang dilaksanakan berkalpa-kalpa memerlukan pengorbanan yang tiada bandingnya, sehingga dikehidupan akhirnya menjadi Buddha dengan nama Buddha Gotama.
B.  Vaga-Vaga Dalam Cariya Pitaka
Akittivaga dalam vaga ini terdapat sepuluh cerita yang berkenaan dengan aktivitas boddhisattva, untuk mengembangkan dana paramitanya. Adapun cerita-cerita dana paramita ini diberi judul sesuai dengan nama pelaku dalam cerita itu. Cerita-cerita ini merupakan prilaku boddhisattva pada kehidupan yang lampau, yang akhirnya mencapai kebuddhaaan dengan nama Buddha Gotama.
1.      Akitticariya
2.      Sakhacariya
3.      Kurudhammacariya
4.      Mahasudassanacariya
5.      Mahagovindacariya
6.      Nimirajacariya
7.      Candhakumaracariya
8.      Sivirajacariya
9.      Vessataracariya
10.  Sasapaditacariya
Atthinagavagga terdapat sepuluh cerita yang berkenaan dengan aktifitas Boddhisattva untuk mengembangkan sila paramita.
    1. Matuposakacariya
    2. Bhuridattacariya
    3. Campeyyanagacariya
    4. Culabodhicariya
    5. Mahasirajacariya
    6. Rururajacariya
    7. Matagacariya
    8. Dhammadevaputtacariya
    9. Alinassattacariya
    10. Sakhapalacariya
Yudhanjayavagga terdiri dari 15 cerita tentang usaha bodhisattva untuk mengembangkan nekkhammaparamita (5 cerita), adhittanaparamita (1 cerita), saccaaparamitta (6 cerita), mettaaparamita (2 cerita), dan upekkhaparamita (1 cerita).
nekkhammaparamita
1. Yudhanjayacariya
2.  Somanassacariya
3. Ayogharacariya
4. Bhisacariya
5. Sonapanditacariya
Adhittanaparamita
1.      Temiyapanditacariya
      Saccaaparamitta
1.      Kapirajacariya
2.      Saccatapasacariya
3.      Vettapotakacariya
4.      Maccaharajacariya
5.      Khanhadipayanacariya
6.      Sutasomacariya

Sasapaditacariya
Bagaimana seekor kelinci karena kekurangan makanan lainnya menawarkan dagingnya sendiri untuk dimakan, dan diberi imbalan dengan mencetak bentuknya di permukaan bulan). Cerita ini terdapat di serambi pertama dinding luar-Deretan atas gambar ke-23, 24, 25 dari gerbang Timur, ke jurusan Selatan Candi Borobudur.
Pada suatu peristiwa Sang Boddhisatwa dilahirkan sebagai seekor kelinci. la berkawan seekor kera, seekor serigala dan seekor anjing air. Mereka hidup bersama-sama berbahagia dalam sebuah hutan; pergi kian kemari mencari makan. Di antara keempat kawan itu, kelincilah yang paling pandai. Sepuluh hari sekali mereka berkumpul pada tempat yang sudah ditentukan untuk membicarakan suatu hal. Kelinci menjadi juru nasehat yang selalu menganjur-anjurkan agar mereka berbuat baik, membantu sesama mahluk ataupun memberi sedelkah dan berbuat kebajikan pada hari-hari suci.
Pada suatu malam, menjelang bulan purnama, berkotbahlah kelinci ; "Kawan-kawan, besok adalah bulan purnama; baiklah kita bersama-sama merenungkan Ajaran. (Yang dimaksud adalah Ajaran "Atta Sila" yang biasanya direnungkan pada hari-hari Uposatha seperti bulan purnama, bulan baru, dan sebagainya dalam agama Buddha).
Jika ada seseorang datang meminta sesuatu dari pada kita, harus kita berikan apa yang kita miliki. Dana yang dikerjakan dengan Sila adalah sangat berjasa. Kera, serigala dan anjing air menyatakan persetujuan penuh dan masing-masing berkemas-kemas untuk malam esoknya, Anjing air mendapat beberapa ekor ikan pada dasar sungai yang kering. Serigala menyediakan air susu asam sedang Kera mencari sebuah mangga manis.
Pada malam purnama esoknya, mereka berkumpul lagi dan dengan khidmat bersama-sama merenungkan Ajaran. Kelinci yang tidak membawa persediaan makan, berpikir, dengan penuh ihlas Jika di atas bumi ini ada seorang yang sangat saleh, maka singgasana Sang Sakka Mahadewa seketika menjadi panas. Pada malam itu pula tahta Sang Sakka seolah-olah terbakar disebabkan kesucian Kelinci yang dengan ikhlas bersedia mengorbankan badannya sendiri. Sang Sakka mengarahkan penglihatan gaibnya di atas bumi dan segera mengerti halnya.
Untuk mencoba ketulusan hati si kelinci, maka Sang Sakka menjelma sebagai seorang Brahmana yang datang meminta-minta. Mula-mula didatangilah anjing air yang bertanya : "Brahmana yang berbudi; ada apa Tuan datang kemari ?"
Jawabnya : "0, kawan baik; jika ada sesuatu yang dapat kami makan, kami akan ikut pula merenungkan Ajaran seperti Tuan". Anjing air senang sekali mendengarkan hal itu dan seketika itu menawarkan ikan-ikannya. Tetapi Sang Sakka menolak dan berterima kasih dengan alasan bahwa hari masih siang. "
Demikian pula berturut-turut dinyatakan terima kasih dan, ditolaknya pemberian air susu dari serigala dan buah mangga dari kera. Akhirnya didatangilah Kelinci yang sangat tawakal itu dan meminta sesuatu untuk dimakan. Si Kelinci sangat besar hatinya. Sekarang datang kesempatan yang ditunggu-tunggu.
Apa yang diminta padanya akan diberikan pula. Maka katanya dengan riang : "0, Brabmana yang berbudi adalab baik hati Tuan yang sudi mendapat makan dari kami dan pula sudi merenungkan Ajaran bersama-sama kami. Akan kami sajikan apa yang belum pernah kami berikan. Silahkan mengumpulkan kayu bakar dan membuat api; kami akan meloncat ke dalamnya dan mempersembahkan hidup kami pada Tuan. Jika daging kami telah cukup masak silahkan mengambil dan memakannya agar Tuan dapat pula merenungkan Ajaran". Seperti telah diminta, dengan kekuatan gaib Sang Sakka mengadakan kayubakar yang dipasangnya serta memanggil Kelinci.
Si Kelinci lekas-Iekas memandikan diri; menggetarkan badannya tiga kali agar kutu-kutu pada kulitnya tidak akan turut terbakar dan dengan tidak ayal lagi me­loncat dalam api yang menyala-nyala. Betapa besarnya pengorbanan itu. Betapa gembiranya ia menyerahkan nyawanya sendiri. Meskipun ia hanya seekor binatang saja; dalam pengorbanan itu masih pula diutamakan keselamatan kutu-kutu yang selama hidup mengisap darahnya sendiri. Tetapi ajaib. Kelinci yang terjun dalam api itu, tidak terbakar; bahkan bulunya seujungpun tidak hangus. Sang Sakka menangkap Kelinci yang gagah itu dalam tangannya dan melindungi nyawanya.
Untuk menghargai jasa ikhlas tulus itu dan untuk menyiarkan hal itu kepada seluruh umat, maka Sang Sakka memahat gambar Kelinci pada Bulan yang memutari Bumi hingga sampai sekarang masih dapat kita lihat semua.

Ayogharacariya
  1. Ketika saya sebagai raja kasi dibesarkan dalam rumah besi, saya bernama Ayoghara .
  2. (Ayahku) berkata: setelah mendapatkan kehidupanmu dengan susah payah memeliharamu dalam tempat tertutup, pada hari ini kuasailah dunia ini, anakku.
  3. Dengan kerajaan-kerajaan kota-kota para penduduk. “Hormatilah para ksatria dengan beranjali saya menghormat, saya mengatakan kata-kata ini.
  4. “Siapa pun mahluk dibumi, rendah, tinggi, menengah tampa perlindungan mereka sendiri bersama keluarga.
  5. Cara membesarkan saya dalam tempat tertutup adalah unik di dunia saya telah dibebaskan dalam rumah besi tampa sinar matahari dan bulan.
  6. Setelah saya bebas dalam kandungan ibuku yang penuh berisi cairan menjijikan, berisi cairan hal-hal yang tidak menyenangkan, dari sana kemudian saya dicampakan kedalam rumah besi yang lebih menakutkan dan menyedihkan.
  7. Jika saya yang telah keluar, tempat paling kejam dan menyedihkan seperti ini untuk mendapatkan kesenangan dalam kerajaan maka saya akan menjadi orang jahat yang paling rendah
  8. Saya dilelahkan oleh tubuh, saya tidak memerlukan kerajaan, saya mencari jalan keluar dimana kematian tidak dapat menguasaai saya.
  9. Sementara berpikir seperti itu, rakyat menangis dengan riuh, bagaimana semua gajah yang menghancurkan semua rintangan, saya masuk hutan, hutan besar.
  10. Ayah dan ibu bukan saya tidak sayangi atau bukan kemansyuran saya tidak sukai. Sabbannu (kemahatahuaan) yang saya rindukan, maka meninggalkan kerajaan.
Share this games :

0 komentar:

Posting Komentar