CARIYA PITAKA PALI
A. Cariya
Pitaka Pali
Risalah ini
berisikan 35 kisah tentang kehidupan-kehidupan Sang Buddha yang diceritakan
kembali oleh permohonan bhikkhu Sariputta. Bila Jataka menceritakan berbagai kehidupan
Buddha sebelumnya sejak jaman petapa Sumeda sampai beliau mejadi Buddha Gotama.
Cariya Pitaka hanya menjelaskan 35 kehidupan Boddhisattva disiklus dunia
terakhir ini. Bhikkhu Sariputta mengajukan permohonan itu dengan tujuan untuk
memperoleh petunjuk tentang tekat yang luar biasa besar, upaya yang keras,
penggorbanan yang tiada bandingnya yang telah dilakukan oleh boddhisattava
dalam memenuhi parami (keluhuran kearah kesemapurnaan).
Setelah
waktu yang sangat lama, boddhisattvapun mengenapi 10 parami berkali-kali sampai
tidak terhitung banyaknya. Cariya Pitaka mencatat perbuatan-perbuatan seperti
itu di dalam 35 kehidupan, dengan memiliki tujuan dari sepuluh parami dan
menjelaskan setiap parami dicapai didalam setiap kehidupan iitu. Sepuluh cerita
itu dalam vagga pertama menjelaskan pengumpulan kebajikan didalam kedarmawanan
dana, vagga kedua memiliki cerita tentang praktek moralitas, sedangkan vagga
ketiga menyebutkan lima belas cerita, lima darinya berhubungan meninggalkan
keduniawiaan, 1 dengan tekad, 6 dengan kejujuran, 2 dengan cinta kasih dan
dengan kesimbangan batin.
Dalam kitab
Cariya Pitaka dibahas tentang tujuh paramita dari sepuluh paramita.
Paramita-paramita itu adalah dana, sila,
nekkhamma, aditthana, sacca, metta, dan upekkha paramita.
Paramita-paramita
inilah sebagai modal boddhisattva untuk mencapai tingkat kebuddhan, yang
dilaksanakan berkalpa-kalpa memerlukan pengorbanan yang tiada bandingnya,
sehingga dikehidupan akhirnya menjadi Buddha dengan nama Buddha Gotama.
B.
Vaga-Vaga Dalam Cariya Pitaka
Akittivaga dalam vaga ini terdapat sepuluh cerita yang berkenaan dengan
aktivitas boddhisattva, untuk mengembangkan dana paramitanya. Adapun
cerita-cerita dana paramita ini diberi judul sesuai dengan nama pelaku dalam
cerita itu. Cerita-cerita ini merupakan prilaku boddhisattva pada kehidupan
yang lampau, yang akhirnya mencapai kebuddhaaan dengan nama Buddha Gotama.
1. Akitticariya
2. Sakhacariya
3. Kurudhammacariya
4. Mahasudassanacariya
5. Mahagovindacariya
6. Nimirajacariya
7. Candhakumaracariya
8. Sivirajacariya
9. Vessataracariya
10. Sasapaditacariya
Atthinagavagga terdapat sepuluh cerita yang berkenaan
dengan aktifitas Boddhisattva untuk mengembangkan sila paramita.
- Matuposakacariya
- Bhuridattacariya
- Campeyyanagacariya
- Culabodhicariya
- Mahasirajacariya
- Rururajacariya
- Matagacariya
- Dhammadevaputtacariya
- Alinassattacariya
- Sakhapalacariya
Yudhanjayavagga
terdiri dari 15 cerita tentang usaha bodhisattva untuk mengembangkan nekkhammaparamita (5 cerita), adhittanaparamita (1 cerita), saccaaparamitta (6 cerita), mettaaparamita (2 cerita), dan upekkhaparamita (1 cerita).
nekkhammaparamita
1. Yudhanjayacariya
2. Somanassacariya
3. Ayogharacariya
4. Bhisacariya
5. Sonapanditacariya
Adhittanaparamita
1. Temiyapanditacariya
Saccaaparamitta
1. Kapirajacariya
2. Saccatapasacariya
3. Vettapotakacariya
4. Maccaharajacariya
5. Khanhadipayanacariya
6. Sutasomacariya
Sasapaditacariya
Bagaimana
seekor kelinci karena kekurangan makanan lainnya menawarkan dagingnya sendiri
untuk dimakan, dan diberi imbalan dengan mencetak bentuknya di permukaan bulan).
Cerita ini terdapat di serambi pertama dinding luar-Deretan atas gambar ke-23,
24, 25 dari gerbang Timur, ke jurusan Selatan Candi Borobudur.
Pada
suatu peristiwa Sang Boddhisatwa dilahirkan sebagai seekor kelinci. la berkawan
seekor kera, seekor serigala dan seekor anjing air. Mereka hidup bersama-sama
berbahagia dalam sebuah hutan; pergi kian kemari mencari makan. Di antara
keempat kawan itu, kelincilah yang paling pandai. Sepuluh hari sekali mereka
berkumpul pada tempat yang sudah ditentukan untuk membicarakan suatu hal.
Kelinci menjadi juru nasehat yang selalu menganjur-anjurkan agar mereka berbuat
baik, membantu sesama mahluk ataupun memberi sedelkah dan berbuat kebajikan
pada hari-hari suci.
Pada
suatu malam, menjelang bulan purnama, berkotbahlah kelinci ; "Kawan-kawan,
besok adalah bulan purnama; baiklah kita bersama-sama merenungkan Ajaran. (Yang
dimaksud adalah Ajaran "Atta Sila" yang biasanya direnungkan pada
hari-hari Uposatha seperti bulan purnama, bulan baru, dan sebagainya dalam
agama Buddha).
Jika
ada seseorang datang meminta sesuatu dari pada kita, harus kita berikan apa
yang kita miliki. Dana yang dikerjakan dengan Sila adalah sangat berjasa. Kera,
serigala dan anjing air menyatakan persetujuan penuh dan masing-masing
berkemas-kemas untuk malam esoknya, Anjing air mendapat beberapa ekor ikan pada
dasar sungai yang kering. Serigala menyediakan air susu asam sedang Kera
mencari sebuah mangga manis.
Pada
malam purnama esoknya, mereka berkumpul lagi dan dengan khidmat bersama-sama
merenungkan Ajaran. Kelinci yang tidak membawa persediaan makan, berpikir,
dengan penuh ihlas Jika di atas bumi ini ada seorang yang sangat saleh, maka
singgasana Sang Sakka Mahadewa seketika menjadi panas. Pada malam itu pula
tahta Sang Sakka seolah-olah terbakar disebabkan kesucian Kelinci yang dengan
ikhlas bersedia mengorbankan badannya sendiri. Sang Sakka mengarahkan
penglihatan gaibnya di atas bumi dan segera mengerti halnya.
Untuk
mencoba ketulusan hati si kelinci, maka Sang Sakka menjelma sebagai seorang Brahmana
yang datang meminta-minta. Mula-mula didatangilah anjing air yang bertanya :
"Brahmana yang berbudi; ada apa Tuan datang kemari ?"
Jawabnya
: "0, kawan baik; jika ada sesuatu yang dapat kami makan, kami akan ikut
pula merenungkan Ajaran seperti Tuan". Anjing air senang sekali
mendengarkan hal itu dan seketika itu menawarkan ikan-ikannya. Tetapi Sang
Sakka menolak dan berterima kasih dengan alasan bahwa hari masih siang. "
Demikian
pula berturut-turut dinyatakan terima kasih dan, ditolaknya pemberian air susu
dari serigala dan buah mangga dari kera. Akhirnya didatangilah Kelinci yang
sangat tawakal itu dan meminta sesuatu untuk dimakan. Si Kelinci sangat besar
hatinya. Sekarang datang kesempatan yang ditunggu-tunggu.
Apa
yang diminta padanya akan diberikan pula. Maka katanya dengan riang : "0,
Brabmana yang berbudi adalab baik hati Tuan yang sudi mendapat makan dari kami
dan pula sudi merenungkan Ajaran bersama-sama kami. Akan kami sajikan apa yang
belum pernah kami berikan. Silahkan mengumpulkan kayu bakar dan membuat api;
kami akan meloncat ke dalamnya dan mempersembahkan hidup kami pada Tuan. Jika
daging kami telah cukup masak silahkan mengambil dan memakannya agar Tuan dapat
pula merenungkan Ajaran". Seperti telah diminta, dengan kekuatan gaib Sang
Sakka mengadakan kayubakar yang dipasangnya serta memanggil Kelinci.
Si
Kelinci lekas-Iekas memandikan diri; menggetarkan badannya tiga kali agar
kutu-kutu pada kulitnya tidak akan turut terbakar dan dengan tidak ayal lagi meloncat
dalam api yang menyala-nyala. Betapa besarnya pengorbanan itu. Betapa
gembiranya ia menyerahkan nyawanya sendiri. Meskipun ia hanya seekor binatang
saja; dalam pengorbanan itu masih pula diutamakan keselamatan kutu-kutu yang
selama hidup mengisap darahnya sendiri. Tetapi ajaib. Kelinci yang terjun dalam
api itu, tidak terbakar; bahkan bulunya seujungpun tidak hangus. Sang Sakka
menangkap Kelinci yang gagah itu dalam tangannya dan melindungi nyawanya.
Untuk
menghargai jasa ikhlas tulus itu dan untuk menyiarkan hal itu kepada seluruh
umat, maka Sang Sakka memahat gambar Kelinci pada Bulan yang memutari Bumi
hingga sampai sekarang masih dapat kita lihat semua.
Ayogharacariya
- Ketika saya sebagai raja kasi dibesarkan dalam rumah besi, saya bernama Ayoghara .
- (Ayahku) berkata: setelah mendapatkan kehidupanmu dengan susah payah memeliharamu dalam tempat tertutup, pada hari ini kuasailah dunia ini, anakku.
- Dengan kerajaan-kerajaan kota-kota para penduduk. “Hormatilah para ksatria dengan beranjali saya menghormat, saya mengatakan kata-kata ini.
- “Siapa pun mahluk dibumi, rendah, tinggi, menengah tampa perlindungan mereka sendiri bersama keluarga.
- Cara membesarkan saya dalam tempat tertutup adalah unik di dunia saya telah dibebaskan dalam rumah besi tampa sinar matahari dan bulan.
- Setelah saya bebas dalam kandungan ibuku yang penuh berisi cairan menjijikan, berisi cairan hal-hal yang tidak menyenangkan, dari sana kemudian saya dicampakan kedalam rumah besi yang lebih menakutkan dan menyedihkan.
- Jika saya yang telah keluar, tempat paling kejam dan menyedihkan seperti ini untuk mendapatkan kesenangan dalam kerajaan maka saya akan menjadi orang jahat yang paling rendah
- Saya dilelahkan oleh tubuh, saya tidak memerlukan kerajaan, saya mencari jalan keluar dimana kematian tidak dapat menguasaai saya.
- Sementara berpikir seperti itu, rakyat menangis dengan riuh, bagaimana semua gajah yang menghancurkan semua rintangan, saya masuk hutan, hutan besar.
- Ayah dan ibu bukan saya tidak sayangi atau bukan kemansyuran saya tidak sukai. Sabbannu (kemahatahuaan) yang saya rindukan, maka meninggalkan kerajaan.


0 komentar:
Posting Komentar